Sunday, February 17, 2019

Teknologi KOAX 3.0: Drone Hybrid VTOL Untuk Misi Khusus

https://grignulr.com/?h=1060939456c59145fe7599f99c29f27a3d20a2fe


Teknologi Hybrid VTOL (Vertical Take Off and Landing) yang populer digunakan pada jet tempur Sea Harrier dan pesawat angkut V-22 Osprey, nyatanya membawa inspirasi langsung pada arah perkembangan drone. Serupa dengan pengembangan drone HVTOL yang tengah berjalan di luar negeri, di Indonesia drone dengan kombinasi fixed wing dan rotary wing ini bahkan sudah mampu dibuat prototipe-nya oleh industri di dalam negeri
Persisnya drone ini masih berupa prototipe, namun KOAX 3.0 yang dirilis PT Carita Boat Indonesia telah membetot perhatian pecinta drone di Indonesia. Berwujud tak ubahnya drone pesawat, KOAX selain dilengkapi single propeller pada bagian bekalang, juga dibekali empat electric motor untuk fungsi take off and landing. Ini artinya drone punya dua sumber tenaga, dapat menjalankan moda laksana drone konvesional sayap tetap, namun drone juga dapat terbang layaknya quadcopter.
Dengan keunggulan komparatif, tak heran bila beberapa instansi seperti TNI AL dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) disebut-sebut tertarik pada drone ini. Menurut pihak PT Carita Boat Indonesia, drone KOAX pada dasarnya menjadi incaran bagi institusi atau kesatuan yang dalam operasinya tidak memiliku airstrip atau runway. Sebagai contoh, penerapan drone HVTOL di kapal perang kelak bisa menjadi wahana intai yang optimal.

Dalam simulasi, KOAX 3.0 terbang menggunakan empat electic motor pada empat unit rotor. Setelah drone mengangkasa di ketinggian tertentu, selanjutnya mesin utama (propeller) akan hidup dan mengambil alih fungsi kerja electric motor, dan kemudian drone melaju layaknya moda penerbangan konvensional. Begitu juga saat mendarat, electric motor akan dihidupkan, sementara mesin utama akan dikurangi tenaganya.

KOAX 3.0 yang ikut ditampilkan dalam Pameran Alutsista di Kantor Kemhan pada hari Minggu (13/8/2017), disokong mesin bensin 3W-28i 2 stroke electronic fuel injection berkapasitas 28 cc sebagai penggerak utama untuk fungsi cruising. Sementara empat motor electric untuk VTOL menggunakan T-Motor. Kecepatan maksimum KOAX 3,0 adalah 150 km per jam, sementara jarak jelajah bisa lebih dari 100 km. Endurance di udara memang tidak lama, yakni hanya sekitar 2 jam.
Dari dimensi, KOAX 3.0 punya panjang 1,8 meter dan lebar sayap keseluruhan 3 meter. Bobot drone maksimum saat take off adalah 15 kg, sedangkan payload yang bisa dibawa mencapai bobot 5 kg.

Mirip Rajawali 330
Dari desain fuselage, ada kemiripan antara KOAX 3.0 dan Rajawali 330, drone lansiran PT Bhinneka Dwi Persana yang kini telah digunakan TNI AD. Selain mirip sisi fuselage, desain pada sayap ekor-nya terlihat mengacu pada konsep yang sama. Meski begitu, Rajawali 330 punya dimensi, bobot, termasuk kapasitas payload yang lebih besar dibandingkan KOAX 3.0. Mengenai detail drone Rajawali 330 dapat Anda simak pada tautan artikel dibawah ini.

Sebelum KOAX 3.0, di tahun 2015 penulis pernah melihat drone HVTOL di fasilitas produksi PT Hariff Daya Tunggal Engineering. Namun sampai saat ini, baru PT Carita Boat Indonesia yang secara resmi telah memperkenalkan prototipe drone HVTOL di Tanah Air. (Haryo Adjie)
tags: Indomiliter

 

 

NEXT NEWS

Wednesday, August 16, 2017

Perkuat Surveillance Di Perbatasan, Menhan Pesan Drone Rajawali 330



Koleksi drone alias UAV (Unmanned Aerial Vehicle) pesanan untuk TNI dari Kementerian Pertahanan bakal tambah beragam lagi, setelah ada Wulung dan Aerostar, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan bahwa pihaknya akan menambah empat unit drone Rajawali 330 produksi PT Bhinneka Dwi Persada (BDP). Sama halnya dengan Wulung dan Aerostar, Rajawali juga mengusung mesin tunggal propeller dengan dimensi yang lebih kecil.
“Kami akan menambah jumlah armada drone untuk memantau wilayah perbatasan, salah satunya dengan tipe ini. Adanya drone jelas akan mempermudah operasi surveillance bagi prajurit di lapangan,” ujar Ryamizard kepada  di ajang Singapore Air Show 2016 (16/2/2016). Lebih lanjut Menteri Ryamizard menyebut yang dibeli ada tiga unit Rajawali 330, dan satu unit sisanya merupakan bonus. “Maunya saya beli dua dapat bonus dua drone,” kata Ryamizard berkelakar.

Rajawali 330 nantinya bakal digunakan untuk kebutuhan intai TNI AD. Basis yang dipakai dalam produksinya mengacu pada platform UMS Skeldar dari Saab. Peran PT BDP kemudian ‘menjahit’ beberapa komponen dan fitur agar punya kemampuan serta spesifikasi yang dibutuhkan militer Indonesia.

Lebih dalam tentang Rajawali 330, drone fixed wing ini mampu membawa payload seberat 10 kg. Untuk pesanan TNI AD, payload nantinya akan dipasang pilihan perangkat electro optical/infra red camera, FLIR (forward looking infra red), hyperspectral camera, atau mapping camera dengan Light Detection and Ranging (LIDAR). Selain mengandalkan conventional take off and landing, drone ini punya kemampuan semi prepared strip, pneumatic catapult, car top launcher, dan parachute recovery system. Untuk mendarat secara konvensional, Rajawali 330 hanya membutuhkan jalur 60 meter.

Sistem kendali dan navigasi Rajawali 330 tak beda dengan drone lainnya, dapat dikendalikan lewat remote dan dapat beroperasi otonom (autonomous) setelah mendapat setting waypoint GPS (Global Positioning System).

Meski sebagian komponen penting Rajawali 330 masih diinpor, beberapa material pendukung telah dibuat di dalam negeri. Terkait dengan pembelian ini, pihak PT BDP akan memberikan ToT (Transfer of Technology) pada user. Menurut rencana, pesanan pertama Rajawali 330 akan dikirim pada bulan Maret 2016, dan seterusnya hingga akhir tahun. (Haryo Adjie – Singapura)
Spesifikasi Rajawali 330
– Length: 2,27 meter
– Wingspan: 3,3 meter
– Height: 0,9 meter
– Payload: 10 kg
– MTOW: 21,5 kg
– Endurance: lebih dari 8 jam
– Cruise speed: 22 meter per detik
– Max speed: 36 meter per detik
– Take off run: 30 meter
Tags: indomiliter com

Teknologi KOAX 3.0: Drone Hybrid VTOL Untuk Misi Khusus

Teknologi Hybrid VTOL ( Vertical Take Off and Landing ) yang populer digunakan pada jet tempur Sea Harrier dan pesawat angkut V-22 O...